Saturday, 30 April 2016

Asal Usul Masyarakat, Sejarah dan Wisata Pariaman

Pariaman sebagai kota otonom lahir berdasarkan surat keputusan Presiden yang diserahkan oleh Menteri Dalam Negeri RI Hari Sabarno tanggal 2 Juli 2002 di halaman kantor Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa Depdagri, Jakarta. Kota Pariaman ini lahir berdasarkan Undang­Undang No. 12 tahun 2002 tanggal 10 April 2002 tentang pembentukan Kota Pariaman Propinsi Sumatera Barat yang ditandatangani oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Undang­-Undang tersebut diundangkan ke dalam Lembaran Negara RI dengan nomor urut 25 tahun 2002 oleh Sekretaris Negara RI Bambang Kesowo.

Asal Mula Penduduk Pariaman dari Luhak Tanah Data

Jika dilihat masa silam kota Pariaman, maka Pariaman merupakan salah satu daerah rantau dari Minangkabau, seperti halnya Padang, Pasisia, Tiku. Menurut struktur pemerintahan adat Minangkabau, rantau Pariaman dinamakan rantau Riak Nan Mamacah. Maksudnya, di mana harta pusakanya juga turun dari garis ibu. Sedangkan gelar (gala) pusaka, juga turun dari garis Bapak.

Warisan gelar setelah berumah tangga turun dari bapak seperti Sidi, Bagindo dan Sutan. Gelar itu merupakan panggilan dari keluarga isteri yang lebih tua dari umur isteri kepada seorang laki­laki. Warisan dari bapak ini hanya ada di Pariaman. Penduduk Pariaman umumnya turun dari Luhak Tanahdata. Selain itu juga dari Luhak Agam pada bagian Utara. Sedangkan bagian sebelah Selatan justru turun dari Solok.

Meski demikian, tetap saja mereka yang turun dari Luhak Tanah Data menjadi pemegang utama roda pemerintah. Abdul Kiram dan Yeyen Kiram dalam bukunya Raja­-Raja Minangkabau Dalam Lintasan Sejarah (2003;51­52) mencatat, nenek moyang yang mula-­mula turun dari Luhak Tanah Data ada sebanyak empat orang Penghulu beserta rombongannya. Yakni Datuk Rajo Angek, Datuk Palimo Kayo, Datuk Bandaro Basa, dan Datuk Palimo Labih. Amanah dari Yang Dipertuan Pagaruyung, di mana jika rombongan berada pada sebuah tempat yang tidak diketahui namanya, maka segeralah diberi nama dan tanda. Akhirnya tempat itu diberi nama Kandang Ampek. Karena rombongan mereka berjumlah empat.

Tidak lama kemudian, di tempat yang sama datang lagi satu rombongan dipimpin Datuk Makhudum Sabatang Panjang. Kedua rombongan bergabung dan sepakat bersama­-sama turun ke bawah menuju arah Barat. Selanjutnya, rombongan menemukan sebuah tempat yang agak tinggi, tapi belum diketahui namanya. Salah seorang anggota rombongan, menanamkan sebatang pohon sebagai pembatas antara Luhak dan Rantau. Di tempat itu rombongan sepakat menamakan Kayutanam. Daerah inilah yang membatasi Luhak darek dengan Rantau. Berbatas dengan Bukit Barisan yang melingkari Padang Panjang. Perjalanan kelima orang Penghulu tersebut diteruskan sampai ke Pakandangan. Di sini mereka membangun perkampungan. Tidak lama kemudian datang lagi ke Pakandangan enam orang Penghulu dari Tanah Data, yakni Datuk Simarajo, Datuk Rangkayo Basa, Datuk Rajo Mangkuto, Datuk Rajo Bagindo dan Datuk Mangkuto Sati.

Keenamnya bergabung dengan rombongan yang datang sebelumnya. Luas perkampungan diperluas sampai ke Sicincin. Sebagai penghormatan, khusus lima orang Penghulu yang datang pertama, mereka ditempatkan di tengah­-tengah kampung. Sedangkan enam Penghulu yang datang belakangan, melingkari tempat kediaman lima Penghulu tersebut. Daerah ini akhirnya bernama Enam Lingkung. Kedatangan dua gelombang, untuk mengingatnya dijadikan Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung dengan ibukota Sicincin. Kini kecamatan ini sudah dimekarkan menjadi tiga kecamatan. Yakni, Enam Lingkung, 2 X 11 Enam Lingkung Sicincin dan 2 X 11 Kayutanam. Dari daerah­daerah ini, mereka terus menyusuri hingga ke pantai Pariaman.
Ada juga yang menyebutkan penduduk Pariaman dari Tanah Data turun melalui Malalak. Di Malalak rombongan terbagi dua kelompok. Satu kelompok langsung menuju Pariaman, satu kelompok lagi menuju Kampungdalam. Kuatnya hubungan kekeluargaan dengan Malalak ini dapat dilihat dari adanya kunjungan  dari masyarakat Pariaman yang berasal dari Malalak kepada keluarga asal di Malalak.
Pariaman Dahulunya

Dahulu, sebelum ada Provinsi Sumatera Barat yang kita kenal sekarang, ada Provinsi yang namanya Sumatera Tengah. Dan di Sumatera Tengah ini ada 11 Kabupaten, salah satunya adalah Kabupaten Samudera dengan Ibukotanya, Pariaman.

Wilayah Kabupaten Samudera ini sangat luas, bahkan meliputi Nagari-Nagari Tiku, Sasak dan Katiagan, bahkan sampai Air Bangis. Bahkan Kampung-Kampung Ulak Karang, Gunung Pangilun, Marapalam, Teluk Bayur, Seberang Padang dan Air Manis masih termasuk wilayah Kabupaten Samudera ini.

Jadi wilayahnya memang sangat luas, wajar ada ungkapan "Piaman Laweh" (Pariaman Luas).

Banyak teori tentang asal-usul nama Pariaman, tapi yang paling mendekati adalah kata "Barri Aman". Kata "Barri" berasal dari bahasa Arab yang artinya adalan daratan atau tanah. "Barri Aman" berarti adalah tanah yang aman atau daratan yang aman."

Pariaman Zaman Penjajahan

Kota pelabuhan Pariaman beberapa abad lalu telah disinggahi pedagang-pedagang dari Nusantara maupun mancanegara. Saat itu orang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat memproduksi emas, kertas, madu, kemiri, serta hasil bumi lokal untuk dijual di pelabuhan. Awal abad ke-17, Sultan Aceh datang untuk mengusai tempat dan berikutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menguasainya. Masyarakat Pariaman yang hidup menderita dalam penjajahan kemudian melakukan pemberontakan selama hampir satu abad untuk memaksa penjajah meninggalkan tempat yang indah ini.

Sejarah Pariaman sudah dimulai jauh sebelum kedatangan VOC. Catatan Tome Pires (1446-1524), yaitu pelaut Portugis dari Kerajaan Portugis di Asia mencatat adanya lalu lintas perdagangan antara India dan Pariaman, juga antara Tiku dan Barus. Pires juga mencatat perdagangan kuda di antara orang Batak dengan orang Sunda.

Menurut laporan Tomé Pires dalam Suma Oriental yang ditulis antara tahun 1513 and 1515[2], kota Pariaman ini merupakan bagian dari kawasan rantau Minangkabau. Dan kawasan ini telah menjadi salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat Sumatera. Pedagang-pedagang India dan Eropa datang dan berdagang emas, lada dan berbagai hasil perkebunan dari pedalaman Minangkabau lainnya.

Tahun 1527, dua kapal dagang Prancis membawa, Jean dan Raoul Parmentier mengunjungi Pariaman dan berlabuh di Tiku serta Indrapura. Akan tetapi kedatangan mereka tidak meninggalkan catatan signifikan di wilayah ini. Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya, Belanda datang ke Pariaman dan Tiku di bawah pimpinan Paulus Van Cardeen yang berlayar ke arah selatan dari Aceh dan Pasaman. Cornelisde Houtman, salah satu pelaut Belanda juga pernah mengunjungi Pariaman kemudian pindah keselatan yaitu Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang.

Tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke Minangkabau dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bone, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah,Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.

Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral, di satu sisi hendak membebaskan Bone, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara

Tahun 1670, kota Pariaman berhasil direbut oleh VOC (Belanda) dari tangan Aceh. Tapi semenjak dibangunnya pelabuhan Teluk Bayur di kota Padang, maka pamor pelabuhan dan kota Pariaman menjadi mundur.


Tahun 1686, catatan W. Marsden menyebut bahwa orang Pryaman atau orang Pariaman telah melakukan kontak dengan Kerajaan Inggris. Saat itu, dipimpin Raffles, orang-orang India dalam kesatuan tentara Sepoy dari British Raj, dibawa ke kota pelabuhan tersebut. Orang-orang Sepoy dari India inilah yang kemudian memperkenalkan tradisi Muharram kepada penduduk setempat dengan nama Tabuik. Meskipun kontak tersebut tidak terlalu intensif tetapi telah meninggalkan jejak yang kemudian berkembang menjadi salah satu warisan budaya bernama Tabuik.

Tahun 1795, angkatan perang Inggris mendarat dan segera dapat merebut pos-pos Kompeni (V.O.C) di Padang tanpa perlawanan yang berarti. Dengan jatuhnya pos-pos Belanda di Padang, maka pos-pos mereka di daerah pesisir seperti di Salido, Painan, Pariaman dan Tiku juga menyerah pada Inggris

Pariaman Sekarang

Kota Pariaman yang merupakan hasil pemekaran wilayah dan Kabupaten Kapulauan Mentawai. Karena Kota Pariaman yang dulu menjadi Ibu Kota Padang Pariaman kini telah berdiri sendiri, maka Ibu Kota Kabupaten dipindahkan ke Parit Malintang, Kecamatan Enam Lingkung. 
Keputusan ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) DPRD No 05/KEP.D/DPRD.2008 dan SK Bupati Padang Pariaman Nomor 02/KEP/BPP/2008 tertanggal 2 Juli 2008.
Pariaman sekarang ada dua, yaitu Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Jadi kalau sekarang ada yang menyebut asalnya dari Pariaman, pasti pertanyaan selanjutnya adalah, Kabupaten atau Kota?

Pariaman yang terletak di pinggir pantai, mudah dikunjungi pelaut dari berbagai negeri, menyebabkan mudahnya hubungan dengan daerah lain. Sehingga masyarakatnya pun mudah menerima perubahan, baik sosial, politik maupun agama. Tak heran sebagai wilayah yang berada di pinggir pantai dan di singgahi oleh berbagai pedagang, Pariaman belakangan dihuni tak hanya dari keturunan Minangkabau dari daerah darek.

Kota Pariaman merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Padang Pariaman yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2002. Secara geografis Kota Pariaman terletak di pantai barat pulau Sumatera berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Kota Pariaman pada sisi utara, selatan, timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Padang Pariaman dan disebelah barat berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia.

Posisi astronomis Kota Pariaman yang terletak antara 00 o 33' 00"-00 o 40' 43" Lintang selatan dan 100 46"-100 o 10' 55" bujur timur, tercatat memiliki luas wilayah sekitar 73,36 Km2, dengan panjang garis pantai 12 Km daratan ini setara dengan 0,17% dari luas daratan wilayah Propinsi SumateraBarat.


Kota Pariaman terdiri dari 4 (empat) Kecamatan, Pariaman Utara, Tengah, Selatan dan Timur. Kecamatan Pariaman Tengah memiliki luas terkecil, yaitu 16,68 Km2 dan Kecamatan Pariaman Utara tercatat memiliki wilayah paling luas, yaitu 23,35 Km2, sedangkan Kecamatan Pariaman Selatan dengan luas wilayah 16,82 Km2, kemudian KecamatanPariamanTimur juga memiliki wilayahseluas 17,51 Km2.

Kota Pariaman juga identik dengan kota yang dikelilingi pantai, rata-rata ketinggian wilayahnya berada pada kisaran 0-15 m dari permukaan laut. Secara keseluruhan panjang garis pantai yang dimiliki adalah sepanjang 12 Km2, kecuali Kecamatan Pariaman Timur, semua kecamatan memiliki wilayah yang berbatasan dengan laut. Selain itu, Kota Pariaman juga dilewati oleh 3 (tiga) sungai. Nama-nama sungai tersebut adalah Batang Piaman 12 Km), Batang Manggung (11,50 Km) dan Batang Mangau (11,80 Km).
Saat ini Kota Pariaman sangat memprioritaskan pariwisata sebagai Visi yang ditetapkan melalui RPJMD yaitu untuk mewujudkan Kota Pariaman sebagai daerah tujuan wisata dan ekonomi kreatif yang berbasis  lingkungan, budaya dan agama

1 comment:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda, saya juga punya tulisan yang sejenis tentang budaya indonesia, anda dapat mengunjungi di Eksplor Indonesia

    ReplyDelete